Membangun Komunitas Petani berbasis Teknologi Informasi

3 Oct

Dunia pertanian adalah dunia yang tidak pernah terpisahkan dari negara Indonesia.  Sebagai Negara agraris, Indonesia memiliki banyak sumberdaya alam yang sebenarnya merupakan aset utama dalam perjalanan pembangunan bangsa ini.  Namun sayangnya berbagai elemen tampaknya tidak peduli dengan keberadaan pertanian kita saat ini. Berbagai lahan pertanian diubah menjadi bangunan bangunan yang bersifat komersial. Generasi mudapun nampaknya enggan terjun didunia yang konon katanya tidak berkelas ini. Disisi lain para petani yang berusaha keras untuk bekerja sepenuh hati menggarap lahan lahan mereka,  tidak dilindungi dengan baik oleh pemerintah, baik dari segi kesejahteraan maupun dari segi pendidikannya. Sementara itu arus teknologi informasi kian dahsyat  mengalir di Negara ini. Dunia mulai terbuka satu sama lain, hamper tidak ada sekat yang memisahkan satu tempat dengan tempat lain melalu teknologi informasi ini. Mau tidak mau keadaan ini juga mengubah pola hidup masyarakat, sampai dengan pola pikir mereka.  Hal- hal yang dulu dianggap tabu, mungkin sekarang tidak lagi. Hal hal yang dulu dianggap perlu sekarang dianggap tidak perlu, dsb.

Teknologi informasi (TI) merupakan satu hal yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat saat ini. Sehingga mau tidak mau, banyak hal yang bisa kita manfaatkan dari teknologi informasi ini. Salah satunya adalah menggunakan teknologi informasi ini sebagai salah satu media untuk membangun kembali komunitas-komunitas tani kita. Mungkin terkesan muluk muluk dan sangat sulit, tapi bukan satu hal yang mustahil. Sejak saya kuliah di Pertanian dan bergelut dengan dunia TI, saya membayangkan betapa hebatnya pertanian kita, jika kita bisa memulai membangun komunitas tani ditiap desa dengan berbasiskan Teknologi Informasi. Dari komunitas-komunitas tani seperti ini kemudian kita bisa membuat jaringan secara maya (cyber) yang berskala lebih besar. Namun pikiran saya cuma sebatas itu saja, karena melihat berbagai kondisi petani di Indonesia saya juga jadi berpikir kembali, apa mungkin hal ini diterapkan.
Beberapa tahun belakangan saya membuka kembali ide ‘gila ‘ itu, dan memikirkan bagaimana caranya itu menjadi mungkin, walaupun  sekedar konsep saja. Dan sampailah saya pada tahapan pemikiran bahwa kita harus membangun komunitas tani ini dengan dukungan berbagai elemen serta membuat program ini berkesinambungan.

Saya bertemu dengan beberapa teman teman di UNiversitas Brawijaya yang memiliki inovasi yang luar biasa bagi dunia pertanian, seperti Ika Atsari (FTP 2000) dan Kia (MIPA 2003). Ika dalam skripsinya membuat sistem informasi tentang harga harga komoditas di sub-terminal agribisnis di Mantung, Malang. Sistem informasi ini memungkinkan para petani atau siapapun untuk bisa mengecek harga harga komoditi disana dengan menggunakan telepon seluler via sms. Kita tinggal mengetikan kode tertentu, setelah itu server akan membalasnya. Sangat mudah dan simpel, saya rasa denga n begini petani tidak perlu memberikan hasil panennya ke tengkulak dengan harga yang sangat murah, karena mereka sudah tau informasi harga dipasaran. Kalo kia ini agak lebih hi-tech, dia membuat teknologi untuk mengetahui debit air dilahan dengan menggunakan telpon seluler. Namun sayangnya saya tidak tahu kelanjutan ide-ide brilian mereka itu. Sepertinya malah tidak terlalu dilihat oleh banyak orang.
Sebenarnya bermula dari ide ide mereka ini saya mulai berpikir lagi untuk kembali membangun komunitas tani yang melek teknologi informasi. Dan semakin kesini, nampaknya semakin banyak harapan untuk bisa menuju kearah sana. Sebut saja program pemerintah seperti internet masuk kesekolah di desa oleh TELKOM. Program ini saja sebenernya bisa dijadikan modal utama untuk bisa membangun komunitas tani ini. Belakangan ide ini malah beranak pinak, komunitas tani ini seharusnya tidak hanya menjadi sekedar komunitas tani saja, tetapi juga sebagai komunitas yang bisa membangun generasi pertanian yang lebih baik. Selama ini kan mungkin kita selalu mengeluh bahwa agak susah untuk membina para petani yang sudah tua dengan pendidikan yang seadanya, untuk bisa mengikuti banyak hal baru. Tapi saya rasa, anak anak mereka sekolah lebih tinggi dari mereka, dan lebih mudah untuk menerima hal-hal baru. Kemudian saya berpikir, kenapa kita tidak pernah mencoba untuk mengarahkan mereka menjadi petani yang ‘berpendidikan’, karena kenyataannya banyak anak petani yang tidak mau jadi petani. Pemberian pelajaran tentang pertanian,  terutama beasiswa bagi anak-anak petani, untuk sekolah di SMK Pertanian dan atau Sekolah Tinggi Pertanian. Sehingga diharapkan mereka kembali lagi ke desa dengan bekal pendidikan yang lebih mantap.
Sekelumit ide ini akhirnya membawa saya untuk mencoba mengkonsep tentang komunitas tani berbasis teknologi informasi ini. Secara detail saya sendiri belum tau teknis pelaksanaannya seperti apa, tetapi secara konsep mungkin bisa dikembangkan dengan baik oleh banyak pemikir pemikir yg lebih handal dari saya. Dan semoga tidak hanya menjadi sebuah konsep sahaja, lebih dari itu bisa diimplementasikan secara baik pula.

7 Responses to “Membangun Komunitas Petani berbasis Teknologi Informasi”

  1. rohmat sarman 8 December 2008 at 10:15 115b #

    Tertarik sekali, sy berniat menerapkannya di Karawang. Anda bisa membantu? terimakasih.

  2. riyan belva 30 December 2008 at 5:41 241b #

    sy sangat tertarik, n mencoba untuk menerapkannya di daerah sy, karena selama ini sy kesulitan untuk melego hasil-hasil pertanian kami, dengan cara seperti ini sy berharap bisa terbantukan. terima kasih

  3. Migroplus 30 December 2008 at 11:56 256b #

    Kenapa kok tidak berbondong2 membuat alat semacam detektor Ph tanah, detector ulat aja sehingga petani makin cerdas dengan temuan kita

    kunjungi kami juga yaa di http://www.migcorp-jatim.blogspot.com

  4. Pasa Firaya, ST 8 February 2009 at 2:45 045b #

    Salam kenal, berkunjung baca infonya, sukses ya?
    I Like Relationship

  5. berlyqeren 21 February 2009 at 7:16 616b #

    Aq ada pupuk bagus
    ada sampelnya
    klo ada yg berminat
    email ke berlyqeren@yahoo.com

  6. MARIK 6 April 2009 at 12:46 146b #

    ada yg punya ebook cara menanam timun dan pare hibrida?.klo ada kirim dong ke emailku : lunar7577@gmail.com

  7. selly 11 June 2010 at 4:30 530b #

    semakin canggih dan semoga semaikn maju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: