Ketahanan Pangan (III – Habis)

29 Sep

Departemen Pertanian sebagai lembaga yang terkait langsung dengan masalah ketahanan pangan secara teknis, mempunyai visi dan misi dalam membangun ketahanan pangan. Visi pembangunan ketahanan pangan adalah terwujudnya ketahanan pangan yang berbasis sumberdaya nasional secara efisien dan berkelanjutan menuju masyarakat yang sejahtera. Selanjutnya misi pembangunan ketahanan pangan adalah meningkatkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat/petani untuk membangun ketahanan pangan berbasis sumberdaya lokal, melalui pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkelanjutan, berkerakyatan dan terdesentralisasi (Badan Bimas Ketahanan Pangan, 2001).
Dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan disertai dengan tuntutan lingkungan strategis baik domestik maupun internasional mendorong adanya perubahan paradigma pembangunan nasional termasuk pembangunan pertanian. Perubahan paradigma pembangunan tersebut antara lain tercermin dari dirumuskannya paradigma baru dalam pemantapan ketahanan pangan. Paradigma baru ketahanan pangan tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Perubahan paradigma pemantapan ketahanan pangan

Pendekatan

Paradigma lama

Paradigma baru

1. Pendekatan pengembangan

Pemantapan ketahanan pangan pada tatanan makro/agregat

Pemantapan ketahanan pangan rumah tangga

4. Fokus pengembangan komoditas pangan

Bertumpu pada beras

Pengembangan komoditas pangan secara keseluruhan

5. Upaya mewujudkan keterjangkauan rumah tangga atas pangan

Pengadaan pangan murah

Peningkatan daya beli

Sumber : Dewan Ketahanan Pangan, 2001

Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII pada tahun 2004 merumuskan bahwa Angka Kecukupan Energi (AKE) rata-rata orang Indonesia pada tingkat konsumsi sebesar 2.000 Kkal per orang per hari maka Angka Kecukupan Protein (AKP) sebesar 52 gram per kapita per hari. Sedangkan pada tingkat ketersediaan energi sebesar 2.200 Kkal maka AKP adalah sebesar 57 gram per kapita per hari. Apabila angka tersebut tidak dapat dicapai oleh suatu rumah tangga, maka rumah tangga tersebut berpotensi mengalami rawan pangan.

Kerawanan pangan dapat diartikan sebagai kondisi suatu daerah, masyarakat atau rumah tangga yang tingkat ketersediaan dan keamanan pangannya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan sebagian besar masyarakat (Anonim, 2001). Dari sini terdapat dua kondisi yang dapat dilihat, yaitu kondisi yang terjadi pada daerah/wilayah atau rumah tangga yang terganggu ketersediaan pangannya, dan kondisi lain pada masyarakat atau keluarga yang terganggu kemampuan akses terhadap pangan.

Kerawanan pangan dapat dilihat dari sisi produksi, konsumsi dan distribusi. Dari aspek produksi rawan pangan adalah kemampuan menghasilkan tidak seimbang dengan pemenuhan kebutuhan. Disini hanya dilihat sisi kemampuan produksi bukan sisi ketersediaan, karena ketersediaan dapat dipenuhi dari adanya pasokan antar wilayah. Dari aspek konsumsi adalah ketidakmampuan membeli pangan karena tidak ada daya beli atau masyarakat miskin. Dari segi distribusi adalah ketidakseimbangan supply memenuhi demand sehingga terjadi kelangkaan pangan pada suatu tempat, waktu, jumlah dan harga yang memadai. Dalam hal ini pangan tidak hanya beras sebagai sumber pangan utama bagi konsumen, tetapi berbagai sumber pangan, yang meliputi diversifikasi pangan sesuai dengan kebiasaan/ budaya masyarakat setempat.

Kejadian kerawanan pangan dapat bersifat kronis (cronical) maupun sementara dan mendadak (transient). Kronis adalah keadaan kekurangan pangan yang berkelanjutan yang terjadi sepanjang waktu yang dapat disebabkan oleh keterbatasan sumber daya alam (SDA) dan keterbatasan kemampuan sumber daya manusia (SDM), sehingga menyebabkan kondisi masyarakat menjadi miskin. Kerawanan pangan yang bersifat sementara akibat kejadian yang mendadak (transient) disebabkan oleh kondisi yang tidak terduga, seperti bencana alam, kerusuhan, musim yang menyimpang, konflik sosial, dan sebagainya. Keadaan kerawanan pangan baik yang bersifat kronis maupun transien harus dapat dideteksi sedini mungkin dan segera dapat diketahui penyebab terjadinya kerawanan pangan, sehingga dapat diambil langkah-langkah kegiatan pemberdayaan di daerah rawan pangan.

Berdasarkan kondisi kerawanan pangan yang terjadi, maka penetapan kebijakan penanganan rawan pangan dapat dimulai dengan melakukan identifikasi dengan menggunakan instrumen yang ada atau yang disepakati secara terkoordinasi di daerah, terhadap kondisi yang melatar belakangi terjadinya rawan pangan. Kelembagaan di daerah untuk menangani kasus rawan pangan merupakan ujung tombak, karena sebenarnya daerah yang lebih dahulu tahu dan mengerti persis penyebab munculnya masalah rawan pangan serta tindakan pencegahan dan penanggulangan yang diperlukan.

Setelah ditemukan penyebab kerawanan pangan, kemudian perlu melakukan tindakan intervensi yang ditujukan kepada kelompok/rumah tangga tertentu untuk meningkatkan kemampuan akses terhadap pangan. Adapun bentuk langkah yang dapat diambil antara lain : 1) melakukan kegiatan capacity building, 2) pemberian bantuan langsung pada kelompok masyarakat tani sesuai hasil identifikasi, dalam rangka memfasilitasi agar masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (self help) (Deptan, 2001).

3 Responses to “Ketahanan Pangan (III – Habis)”

  1. marina 9 June 2010 at 3:28 328b #

    menambahkan bahwa pada tahun 2012 ini semua unit ketahanan pangan di daerah (kab/kota/provinsi) harus mencapai SPM ketahanan pangan yaitu untuk ketersediaan harus mencapai PPH 95 dan AKE 2200 Kal/kap/hari sementara PPH konsumsi juga 95 dengan AKE 2000 Kal/kap/hari

    Sementara mayoritas kabupaten kota di Indonesia masih memiliki PPH yang jah dari harapan dan sulit sepertinya mencapai SPM tahun 2012 tersebut

  2. selly 11 June 2010 at 4:15 515b #

    thanks buat infonya

  3. yora 13 December 2010 at 1:36 136b #

    kerawanan pangan yang banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesiamenunjukkan bahwa ketahanan pangan masih belum merata di masyarakat. melihat keadaan tersebut bagaimanakah langkah-langkah nyata yang dapat dilakukan ?

    tentu saja banyak faktor yang mempengaruhi ketidakmerataan ketahanan pangan seperti saya sebutkan diatas, faktor faktor tersebut yang menjadi prioritas untuk ditangani, selain itu kerawanan pangan adalah hal yang kompleks, banyak hal yang perlu dibenahi untuk mencapai kemandirian pangan yang sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: