Mahasiswa dan Hedonisme Terbudayakan (Students and Cultured Hedonism)

10 Sep

Hari ini gw dapet sms dari salah seorang panitia PLA, semacam ospek jurusan buat anak-anak Sosial Ekonomi Pertanian di kampus gw (Universitas Brawijaya). Intinya undangan untuk menghadiri acara Pasca PLA, yang baru aja diselenggarain tanggal 8-9 september 2007 (2 hari kemarin). Memang gw akui baru kali ini anak-anak getol ngundang gw, soalnya kemaren-kemaren biasa aja. Yah, demi menghargai adik-adik gw yang udah ngundang gw dengan sukarela (eh gak tau ding!!) akhirnya gw dateng ke tuh acara sekitar jam setengah sembilanan.

Dengan berbekal sepeda pancal pinjaman punya om dheche dan kamera pinjeman dari meti akhirnya berangkat juga lah gw kesana, dengan harapan bisa dapet sesuatu yang menarik.  Guest What?? ternyata emang gw dapet sesuatu yang menarik. peserta yang didominasi oleh angkatan muda ini (2004-2007), ternyata sangat menikmati jalannya acara, yang justru sebenernya bagi gw sendiri gak ada maknanya sama sekali. Gimana gak, coba bayangin perasaan gw baru seminggu yang lalu mereka ngadain acara yang mirip (makrab), isinya yah paling juga just having fun. sekarang malah tambah lebih parah lagi man! mereka bener-bener gak keliatan mahasiswanya. Kentara banget mereka sangat antusias dengan berbagai macam kegiatan kayak gitu, coba aja liat nanti kalo tiba waktunya ada kegiatan yang bernuansa keprofesian sebagaimana OMJ (Organisasi Mahasiswa Jurusan) seharusnya, bisa dipastikan gak ada setengah dari mereka yang bakalan ikut dengan berbagai alasan.

Akhirnya gw nyeletuk juga sama anak-anak angkatan 2002:”eh, perasaan waktu kita jaman maba gini dulu gak gini-gini amat!”,hehhe…kontan anak-anak nge-iya-in deh. malahan, ada yang nyeletuk juga:”boro-boro kayak gini, kayaknya kita mati-matian bikin nih himpunan idup lagi”. ya mungkin kondisinya memang beda. tetapi pergeseran nilai-nilai yang ada di dalam diri mahasiswa udah kejauhan, man! bayangin (gak juga gpp :p), mereka mengawali PLA dengan acara bernuansa just having fun, pada saat acara juga just having fun, Pasca PLA malah lebih brutal lagi, nah lengkaplah sudah ketewuran ini.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapapun atas semua ini, tetapi lebih menjadi evaluasi bersama bagi semua mahasiswa, yang notabene agent of change bukan agent of nge-change (ngeceng). banyak hal yang bisa dilakukan dan bermanfaat bagi kita semua. gw sendiri gak nganggep kalo having fun itu salah, tapi ya mbok jangan kebablasan toh, nduk! kalo kata raihan “berhibur tiada salahnya karena hiburan itu indah, tetapi apabila salah memilihnya itulah yang membuat kita jadi bersalah”..cukup bijak.

Mungkin terlalu dini juga, kalo kita menilai generasi sekarang hedon banget, tapi tidak bisa kita pungkiri, fenomena semacam itu (hura-hura oriented) menjadi sering kita jumpai (justru akhir-akhir ini) dan mereka semua akhirnya juga gak ada apa-apanya kalo diajak berkompetisi dalam kebaikan (misalnya ikutan lomba karya tulis, halah – bororaah). sekali lagi, ini tanggung jawab kita bersama buat ngelurusin lagi hal-hal yang bengkok dalam dunia mahasiswa ini. tapi berhubung gw juga udah gak mahasiswa jadi yah cuma bisa ngasih saran lewat tulisan kayak gini deh, atau kalo diundang untuk sharing.

sekali lagi, budaya hedonisme itu sangat berpotensi di dalam dunia mahasiswa (apalagi sekarang), jadi patut diwaspadai. tinggal sehebat apa kita mengcounter semua potensi jelek itu dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat peningkatan softskill secara personal. Sehingga output dari tiap kegiatanitu jelas. It’s Up to Yo, Dude !! itu semua terserah dan berpulang pada diri kita masing-masing. Keep Fight, Punch all obstacles in your way, Kick ’em away

4 Responses to “Mahasiswa dan Hedonisme Terbudayakan (Students and Cultured Hedonism)”

  1. mayang adelia puspita 10 September 2007 at 6:47 147b #

    Hehehe..iyah mas..padahal di luar masi banyak yang btuh di perjuangkan..

    eksistensi mahasiswa pertanian sebagai partner petani semakin di ragukan..

  2. raymond 10 April 2008 at 3:35 435b #

    hedonisme jaman sekarang uda ga tabu, kalo ga ada kaum begitu, ga mungkin juga ada kan kaum yang lebih pintar atau lebih baik dari mereka, itu salah satu kelas dari masyarakat. let them do their ways, tooh satu hari merekajuga akan berubah

  3. eni 13 February 2009 at 11:49 549b #

    Aku pernah ngrasain kemirisan yang sama… Tahun 2006. ketika masih duduk dismester 6 UGM…Rasanya begitu nelangsa,menyaksikan teman-teman yg sedang demo dibunderan UGM hanya dijadikan tontonan dan dipandang sebelah mata oleh mahasiswa2 lain yang sedang asik nongkrong diboulevard UGM… Saat segelintir mahasiswa berusaha memperjuangkan sesuatu, semnetara sbagian besar yg lain hanya sekedar kongkow2 memamerkan merk… Empati seakan udah tergerus begitu saja…idealisme dijadikan tertawaan oleh kaum muda yg harusnya mau berfikir dan memikir itu…

  4. Ree 9 April 2009 at 9:45 445b #

    Wah-wah sama mbak eni, saya juga waktu demo masalah BHP tahun kmaren, eh, cuma 3 orang yang mau ikut. pas aksi, malah banyak mahasiswa lain ketawa-ketiwi liat yang demo cuma bertiga.

    perih rasanya lihat mahasiswa lain cuma nongkrong ga jelas. padahal kita juga memperjuangkan nasib mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: